o OPT merupakan kendala penting dalam produksi tanaman,
karena dapat menurunkan hasil baik kuantitas maupun kualitas
o Masalah OPT semakin meningkat dan kompleks sebagai
akibat introduksi teknologi pertanian yang kurang memperhatikan ekosistem
o KONSEP PHT muncul sebagai koreksi atas kegagalan
pengendalian OPT secara konvensional yang lebih mengandalkan penggunaan
pestisida kimia
o Pemerintah menetapkan kebijakan pengendalian OPT
dengan sistem PHT, sesuai dengan yang tercantum dalam UU No.12 Tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan
Tanaman
AGENS
PENGENDALIAN HAYATI DIKELOMPOKAN DALAM 4 KELOMPOK
ö Predator : Binatang yang memakan hama (mangsa) untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya (contoh : laba-laba, burung hantu, ular, dll.)
ö Parasitoid : Serangga yang memarasit atau hidup dan
berkembang dengan menumpang serangga lain (inang). Sebagian parasitoid dari ordo Hymenoptera
(tabuhan/penyengat) dan Diptera (lalat)
ö Patogen : Mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan
menimbulkan penyakit pada individu OPT ( contoh : bakteri, virus, cendawan,
nematoda, protozoa dan riketsia)
ö Agens Antagonis suatu patogen penyebab penyakit
tumbuhan : Mikroorganisme yang mengitervensi aktifitas patogen penyebab penyakit tumbuhan yang
menimbulkan penyakit
KELEBIHAN
PENGENDALIAN HAYATI
o Bersifat Selektif
o Agens hayati tersedia di lapang
o Dapat mencari inang sendiri/mangsanya (parasitoid,
predator)
o Relatif tidak nenimbulkan resistensi pada OPT
o Relatif murah
o Tidak mencemari lingkungan
KELEMAHAN
PENGENDALIAN HAYATI
Hasilnya
berjalan lambat, sehingga sulit diterapkan pada saat telah terjadi eksplosi
(ledakan populasi hama)
1. LALAT BIBIT atau ULAT BIJI JAGUNG
Nama ilmiah ( Atherigona oryzae Malloch)
Nama lokal : Larva =Aphis (Cebuano)
Dewasa Bangau (Bicol)
Nama ilmiah ( Atherigona oryzae Malloch)
Nama lokal : Larva =Aphis (Cebuano)
Dewasa Bangau (Bicol)
Kerusakan
Ø Terdapat bekas-bekas daun yang dimakan, daun-daun
mudanya menggulung dan terbelah.
Ø Terjadi pelayuan, pengeringan dan pembusukan bagian
tengah tunas.
Ø Tunas yang terinfeksi mengalami kekerdilan dan
selanjutnya mungkin bercabang ke samping.
Cara
pengendalian
q Biasa tanaman di suatu daerah terinfeksi serentak.
q Penanaman dilakukan pada awal musim tanam untuk
menghindari populasi ulat yang tinggi.
q Pemanfaatan parasitoid Cardiochiles sp dan Argyrophylax
sp.
q Pemanfaatan predator Lycosa sp. Oxyopes sp., Paederus sp., Micraspis
sp., Coccinella sp. dll.
2.
ULAT GRAYAK
Nama ilmiah; Mythimna sp., Spodoptera litura
Nama ilmiah; Mythimna sp., Spodoptera litura
KERUSAKAN
o
Pengeratan
jaringan daun oleh larva muda akan meninggalkan legokan tidak beraturan yang
berwarna abu-abu pada daun.
o
Larva yang
lebih tua mungkin memotong ranting dan daun termasuk bagian venanya.
CARA
PENGENDALIAN
o
Pemanfaatan
parasit telur seperti Telenomus sp, Tetrastichus sp.
o
Penyemprotan
dengan Sl-NPV
3.
Ulat penggerek batang
(Ostrinia furnacalis Guenee)
(Ostrinia furnacalis Guenee)
Kerusakan:
o
Larva instar
1 menyebabkan lubang-lubang sebesar jarum pada daun
o
Lubang
sebesar kepala korek api dan keratan berbentuk memanjang dapat ditemukan pada
daun dan selubung, daun akibat larva instar II-III.
o
Larva instar
III-V menyebabkan jumbai atau rusaknya jumbai, lubang pada batang, ranting dan
telinga daun.
o
Kerusakan
batang dan daun.
o
Kematian
prematur dari tanaman dan kuping
Tidak ada komentar:
Posting Komentar