Jumat, 10 Februari 2012

Pengendalian OPT sistem PHT/ Agency Hayati komoditas jagung




o  OPT merupakan kendala penting dalam produksi tanaman, karena dapat menurunkan hasil baik kuantitas maupun kualitas
o  Masalah OPT semakin meningkat dan kompleks sebagai akibat introduksi teknologi pertanian yang kurang memperhatikan ekosistem
o  KONSEP PHT muncul sebagai koreksi atas kegagalan pengendalian OPT secara konvensional yang lebih mengandalkan penggunaan pestisida kimia
o  Pemerintah menetapkan kebijakan pengendalian OPT dengan sistem PHT, sesuai dengan yang tercantum dalam UU No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan PP No. 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Tanaman


AGENS PENGENDALIAN HAYATI DIKELOMPOKAN DALAM 4 KELOMPOK
ö  Predator : Binatang yang memakan hama (mangsa) untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (contoh : laba-laba, burung hantu, ular, dll.)
ö  Parasitoid : Serangga yang memarasit atau hidup dan berkembang dengan menumpang serangga lain (inang).  Sebagian parasitoid dari ordo Hymenoptera (tabuhan/penyengat) dan Diptera (lalat)
ö  Patogen : Mikroorganisme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada individu OPT               ( contoh : bakteri, virus, cendawan, nematoda, protozoa dan riketsia)
ö  Agens Antagonis suatu patogen penyebab penyakit tumbuhan : Mikroorganisme yang mengitervensi aktifitas  patogen penyebab penyakit tumbuhan yang menimbulkan penyakit 

KELEBIHAN PENGENDALIAN HAYATI
o  Bersifat Selektif
o  Agens hayati tersedia di lapang
o  Dapat mencari inang sendiri/mangsanya (parasitoid, predator)
o  Relatif tidak nenimbulkan resistensi pada OPT
o  Relatif murah
o  Tidak mencemari lingkungan

KELEMAHAN PENGENDALIAN HAYATI
Hasilnya berjalan lambat, sehingga sulit diterapkan pada saat telah terjadi eksplosi (ledakan populasi hama)

PENGENDALIAN OPT JAGUNG
1.   LALAT BIBIT atau ULAT BIJI JAGUNG
       Nama ilmiah  ( Atherigona oryzae Malloch)
       Nama lokal : Larva =Aphis (Cebuano)
                             Dewasa Bangau (Bicol)
 
Kerusakan
Ø  Terdapat bekas-bekas daun yang dimakan, daun-daun mudanya menggulung dan terbelah.
Ø  Terjadi pelayuan, pengeringan dan pembusukan bagian tengah tunas.
Ø  Tunas yang terinfeksi mengalami kekerdilan dan selanjutnya mungkin bercabang ke samping.

Cara pengendalian
q  Biasa tanaman di suatu daerah terinfeksi serentak.
q  Penanaman dilakukan pada awal musim tanam untuk menghindari populasi ulat yang tinggi.
q  Pemanfaatan parasitoid Cardiochiles sp dan Argyrophylax sp.
q  Pemanfaatan predator Lycosa  sp. Oxyopes sp., Paederus sp., Micraspis sp., Coccinella sp. dll.

2. ULAT GRAYAK
    Nama ilmiah; Mythimna sp., Spodoptera litura
KERUSAKAN
o  Pengeratan jaringan daun oleh larva muda akan meninggalkan legokan tidak beraturan yang berwarna abu-abu pada daun.
o  Larva yang lebih tua mungkin memotong ranting dan daun termasuk bagian venanya.
  
CARA PENGENDALIAN
o  Pemanfaatan parasit telur seperti Telenomus sp, Tetrastichus sp.
o  Penyemprotan dengan Sl-NPV

3. Ulat penggerek batang
   (Ostrinia furnacalis Guenee)

Kerusakan:
o  Larva instar 1 menyebabkan lubang-lubang sebesar jarum pada daun
o  Lubang sebesar kepala korek api dan keratan berbentuk memanjang dapat ditemukan pada daun dan selubung, daun akibat larva instar II-III.
o  Larva instar III-V menyebabkan jumbai atau rusaknya jumbai, lubang pada batang, ranting dan telinga daun.
o  Kerusakan batang dan daun.
o  Kematian prematur dari tanaman dan kuping 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar