Menurut Rogers (1985)
parameter dalam pengukuran status sosial ekonomi adalah kasta, umur,
pendidikan, status perkawinan, aspirasi pendidikan, partisipasi sosial,
hubungan organisasi pembangunan, pemilikan lahan, pemilikan sarana pertanian
serta penghasilan sebelumnya.
Sedangkan Hartatik
(2004) berpendapat bahwa motivasi dibentuk oleh beberapa faktor, baik faktor
internal yang bersumber dari dalam diri individu maupun faktor eksternal yang
bersumber dari luar diri individu. Faktor-faktor internal yang membentuk
motivasi adalah umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, pendapatan, dan
luas lahan (karakteristik individu). Sedangkan faktor eksternal yang membentuk
motivasi adalah lingkungan sosial, lingkungan ekonomi, dan kebijakan
pemerintah.
1. Faktor Intrinsik
a. Umur
Slamet (1994)
berpendapat bahwa faktor umur sangat penting dalam partisipasi, biasanya mereka
yang masuk golongan 30-40 tahun dimana semakin tua usia semakin aktif
keterlibatannya dalam partisipasi terhadap pelaksanaan. Dan menurut Hernanto
(1984) umur petani sangat mempengaruhi pengetahuan fisik dan merespon terhadap
hal-hal yang baru dalam menjalankan usahatani.
b. Pendidikan.
Pendidikan adalah
proses yang dilakukan secara sadar baik formal maupun informal yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan dan pembentukan kepribadian. Rendahnya tingkat
pendidikan mempengaruhi tingkat adaptifitas masyarakat terhadap modernisasi,
mereka lebih cenderung mempertahankan pola-pola yang sudah ada, yang sudah
pasti dan yang telah mereka kenal dengan baik. Adanya suatu perubahan dianggap
sebagai sesuatu hal yang tidak pasti dan mengandung resiko. Biasanya bersedia
melakukan perubahan apabila ada jaminan bahwa perubahan tersebut akan membawa
hasil yang lebih baik bagi mereka (Khaeruddin, 1992).
Pendidikan formal
sangat berpengaruh terhadap motivasi seseorang. Khususnya dalam tanggapan untuk
menerima adanya inovasi, seseorang dengan tingkat pendidikan formal yang lebih
tinggi akan lebih mudah dalam menanggapi inovasi atau isu yang berkembang.
Karena seseorang lebih berpikiran rasional setelah mendapatkan ilmu-ilmu yang
didapatnya dari bangku sekolah (Kartasapoetra, 1991).
Pendidikan non formal
adalah pengajaran sistematis yang diorganisir di luar sistem pendidikan formal
bagi kelompok orang untuk memenuhi
keperluan khusus. Pendidikan non formal dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan
standart kehidupan dan produktivitas kegiatan usaha yang dilakukan oleh
masyarakat pedesaan (Suhardiyono, 1989).
c. Luas lahan.
Tanah adalah sumber
modal atau tempat dari bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi barang
modal (Tohir, 1983). Dan menurut Mardikanto (1993) petani yang menguasai lahan
sawah yang luas akan memperoleh hasil produksi yang besar dan begitu pula
sebaliknya. Dalam hal ini, luas sempitnya lahan sawah yang dikuasai oleh petani
akan sangat menentukan besar kecilnya pendapatan ekonomi yang diperoleh. Luas
lahan yang diusahakan relatif sempit seringkali menjadi kendala untuk dapat
mengusahakan secara lebih efisien. Dengan keadaan tersebut, petani terpaksa
melakukan kegiatan diluar usahatani untuk dapat memperoleh tambahan pendapatan
agar mencukupi kebutuhan keluarganya.
d. Pendapatan.
Besarnya pendapatan
akan menunjukkan tingkat sosial ekonominya dalam masyarakat disamping
pekerjaan, kekayaan dan pendidikan. Keputusan seseorang dalam memilih jenis
pekerjaan akan sangat dipengaruhi oleh sumber daya dan kemampuan dalam diri
individu, jenis pekerjaan dan tingkat pengeluaran seseorang yang juga
menentukan tingkat kesejahteraan dalam status sosial ekonomi (Mubyarto, 1985).
Soekartawi (1996)
berpendapat bahwa tingkat pendapatan merupakan salah satu indikasi sosial
ekonomi seseorang yang sangat dipengaruhi oleh sumber daya dan kemampuan dalam
diri individu. Jenis pekerjaan dan tingkat pengeluaran seseorang juga
menentukan tingkat kesejahteraan dalam status sosial seseorang.
2. Faktor Ekstrinsik
a) Lingkungan Sosial.
Menurut
Mardikanto (1996) lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi perubahan-perubahan
dalam diri petani adalah kebudayaan, opini publik, pengambilan keputusan dalam
kelompok, kekuatan lingkungan sosial. Kekuatan-kekuatan sosial (kelompok
organisasi) yang ada di dalam masyarakat terdiri dari kekerabatan tetangga,
kekompakan acuan, kelompok minat dan kelompok keagamaan. Lingkungan sosial
dipengaruhi oleh kekuatan politik dan juga kekuatan pendidikan. Melalui
pemahaman tentang kekuatan-kekuatan politik yang ada, dapat diperoleh dukungan
serta dihindari hambatan-hambatan yang bersumber pada kekuatan politik
tersebut.
b) Lingkungan Ekonomi.
Menurut Mardikanto (1996) lingkungan ekonomi terdiri dari:
·
Lembaga pengkreditan yang harus menyediakan kredit bagi petani kecil
Fasilitas kredit merupakan bagian yang menyatu dengan pengembangan usaha dalam
bidang agribisnis. Di Inonesia sudah diterapkan suatu peraturan yang bersifat
wajib dipatuhi dimana bank harus mengeluarkan beberapa persen dari dana
kreditnya untuk kepentingan sektor agribisnis. Bank harus benar-benar mengamati
kondisi dari usaha agribisnis yang dituju sebagai sektor yang benar-benar dapat
mengembangkan bidang agribisnis (Siagian, 1999).
· Produsen dan penyalur sarana produksi/ peralatan tanaman Petani produsen
merupakan penghasil barang-barang hasil pertanian untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan konsumen. Pedagang pengumpul merupakan pedagang yang mengumpulkan
barang-barang hasil pertanian dari petani produsen, kemudian memasarkannya
kembali dalam partai besar kepada pedagang lain (Rahardi, 2000).
·
Pedagang serta lembaga pemasaran yang lain
·
Pengusaha industri pengolahan hasil pertanian
·
Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pembangunan pertanian di
Indonesia senantiasa didasarkan pada amanat yang telah ditulikan dalam GBHN.
Pembangunan pertanian di Indonesia diarahkan untuk memenuhi tujuan yang ingin
dicapai yaitu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pertanian secara lebih
merata. Dalam bidang pertanian tujuan pembangunan pertanian tersebut dapat
dilakukan dengan cara meningkatkan produksi, produktivitas tenaga kerja, tanah
dan modal (Soekartawi, 1987).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar